Agnostic itu boleh
Pertama aku adalah tidak ada
Ada yang bilang masih di surga, ada yang bilang masih dalam ramuan Tuhan
Selanjutnya lahir ke dunia dari seorang Manusia
Aku tercipta sebagai manusia, mengapa bukan jenis binatang yang lain ?
Aku tercipta sebagai laki-laki, mengapa bukan perempuan atau banci ?
Aku tercipta normal, mengapa tidak cacat fisik atau mental ?
Aku dididik sebagai muslim yang baik dan taat
Belajar di pondok dan mempunyai guru mengaji sendiri
Sangat lancar membaca Al Quran, sangat paham hukum-hukum Islam
Meneruskan tradisi keluarga, meneruskan agama leluhur
Saat kuliah, aku tidak pernah membaca Al Quran dalam bahasa arab
Aku selalu membaca terjemahan Al Quran
Aku membaca semua Perjanjian Lama (Torah)
Aku membaca Pejanjian Baru, aku membaca Tripitaka dan kitab-kitab terdahulu
Aku membaca sebanyak karya sastra terkenal
Filsafat, Psikologi, sastra dari Kahlil Gibran sampai tulisan Gus Dur
Semakin aku membaca, semakin aku terbang jauh meninggalkan paradigma dunia yang sempit…
Apalah artinya warna kulit, apalah artinya sebuah bangsa, apalah artinya sebuah kepercayaan
Manusia dinilai bukan sebagai apa dia dilahirkan, bukan dari mana dia dilahirkan
Nilai manusia dilihat dari moral dan pandangan terhadap prinsip universal
Aku seorang Agnostic, mencari pencerahan dari anda semua…
Tapi jangan tawarkan aku Islam, Kristen atau Hindu, sudah kubaca 100x dan kupelajari dengan baik
Tidak ada yang cocok satupun!!
Seperti kata Kahlil Gibran bahwa agama adalah pakaian duniawi
Seorang Atheis seperti orang gila bertelanjang di tengah kota
Semua orang melihat jijik sambil berkata :” kasihan orang itu”
Sama seperti segerombolan monyet melihat curiga pada satu monyet yang berpakaian
Atheis atau beragama adalah sama, Agnostic adalah orang yang hilang dan belum ditemukan
Dia menerima semua saran, pendapat dan tawaran sebagai pertimbangan dalam mengembangkan pikiran dan akalnya
Dunia itu seperti demikian apa adanya…
Kata-kata di atas menjelaskan arti sebuah paradigma kebenaran yang terkadang masih dapat kita jangkau, sebagian atau di luar jangkauan pemahaman kita. Mengerti sebuah paradigma adalah hasil dari sebuah perjalanan panjang menjangkau dunia, bahkan di luar dunia. Jika kita berkesempatan hidup di setiap bangsa, bahkan bagian atau suku-suku terkecil yang pernah ada, kita akan bisa memahami sebuah paradigma kebenaran.
Seorang manusia yang terlahir di Vatican dan meninggal di Vatican, dia akan berparadigma sebagai seorang Vatican yang taat akan katholik dan doktrin gereja-nya. Demikian pula orang yang terlahir di India, atau di Saudi Arabia, tentu akan memiliki paradigma sesuai daerahnya. Paradigma yang salah akan menyebabkan sengketa, perselisihan, permusuhan bahkan peperangan tiada henti.
Dilahirkan di manakah anda ? dilahirkan sebagai agama apakah anda ? dilahirkan dalam kebudayaan apakah anda ?
Pikiran dan pandangan-pandangan kita akan terikat oleh pandangan orang tua, terikat oleh agama oreng tua, oleh kebudayaan yang dijalani orang tua dan sebagainya. Sehingga kita adalah ciptaan orang tua kita termasuk paradigma yang terbentuk, yang seharusnya adalah hak independent kita untuk berpikir dan memutuskan apa yang harus kita percaya. Hidup adalah melanjutkan hidup kebudayaan sebelumnya, melanjutkan dan menjaga kepercayaan generasi sebelumnya, bahkan sebelum kita dapat membentuk paradigma orisinil yang kita punya.
Bagaimana cara mendapatkan Paradigma yang benar ?
Anda harus memandang dunia apa adanya. Anda harus tahu sejarah yang membentuk peradaban manusia. Peradaban yunani, romawi, cina, atau peradaban di daerah anda sekarang. Sejarah bisa diltus manusia, ada banyak distorsi dan kita harus mampu mendapat jawaban dari distorsi itu. Kita adalah produk, atau bukan produk jika kita mampu melepas dari keterkungkungan paradigma nenek moyang. Jangan pernah berperang karena agama karena itu bodoh, jangan membenci karena beda warna kulit karena itu picik. Kita adalah produk system acak yang bisa saja menjadi anak raja atau anak miskin, menjadi negro atau bule, menjadi islam atau kristen. Paradigma berarti percaya atau tidak.
Saya percaya pada system tata surya walaupun belum bisa membuktikan, dan saya tidak percaya pada surga walaupun belum bisa membuktikan. Hari ini orang yang percaya bahwa dunia itu datar akan disebut bodoh, dahulu orang yang mengingkari itu akan digantung. Paradigma adalah cara kita memandang segala sesuatu dengan segala pengetahuan yang kita terima. Terbanglah jauh pikiran anda, menembus apa yang ada di dunia, terbang tinggi sampai ke bulan maka anda akan mendapatkan paradigma dunia apa adanya.
Sehingga tidaklah penting agama apa yang dianut orang tua kita, atau dari mana asal suku kita, sangatlah penting apa yang diajarkan orang tua kita tentang nilai-nilai kebaikan dan kebenaran sejati
Integritas Pemimpin
Pernahkah terfikir oleh anda bahwa anda telah memiliki integritas yang tinggi? Atau setidaknya seberapakah ukuran integritas anda? Hal ini terasa sangat umum sekali, sering terdengar kata “integritas”, bahkan mungkin kita merasa memiliki kata itu. Intergritas tak lebih dari pembuktian diri, secara umum menjelaskan bahwa apa yang saya katakan sama dengan yang saya kerjakan. Tapi berkembang lebih dari itu, integritas merupakan komitmen diri yang datang dari pikiran, dipadu dengan hati dan dilakukan dengan perbuatan. Terdapat sinkronisasi antara ketiga komponen tersebut, sehingga saling terhubung dan memberikan makna yang jelas.
Dari kecil tentu saja kita belum mengenal dan mengerti mengenai integritas, tapi tanpa sadar kita banyak melakukan sepanjang mengacu pada kebenaran dan kejujuran. Kebenaran akan bersifat langgeng, kejujuran tidak dapat diputar-balikkan. Saat anak kecil berkata bahwa Dia akan tidak nakal, Dia akan berusaha menjadi anak manis yang menurut. Dia ingin konsisten dengan apa yang diucapkan pada Ibunya sampai akhirnya dia menangis karena minta dibelikan permen yang menggoda pandangan matanya di etalase. Tentu kita tidak bisa menyebutkan bahwa anak ini tidak memiliki integritas, hal ini bisa dijelaskan dengan satu alasan : Integritas bisa dimiliki oleh siapa saja yang mampu berpikir, beranalisa, berkesadaran penuh dan memiliki kejujuran.
Saat kita menjadi mahasiswa, apakah benar-benar merasa sebagai orang dewasa? Tentu saja anda merasa demikian. Tingkat kedewasaan bisa terukur dari bagaimana dapat menjaga komitmen, bagaimana dapat berprilaku santun, bagaimana dapat mengatur waktu pribadinya, bagaimana dapat mempertanggungjawabkan studinya pada orang yang membiayai dan seterusnya. Bagaimana Dia mempunyai integritas? Sedikit mencontek, sedikit bermain, sedikit membolos, terasa seperti menjadi hak kita sebagai orang dewasa yang mampu berpikir lebih.Tapi tanpa kita sadari, itu merupakan penurunan integritas anda. Hanya beberapa orang yang menjadi pimpinan puncak organisasi kampus berusaha menjadi orang yang berintegritas. Integritas akan terasa untuk hal-hal yang berhubungan dengan organisasi karena adanya inter personal relation yang harus dijaga. Belum tentu apa yang dilakukan mahasiswa dalam berdemonstrasi merupakan perwujudan dari integritas terhadap bangsa ini, bisa terbukti jika kita mengetahui apa yang ada di pikiran dan hati mereka. Apa yang akan mereka kerjakan setelah lulus, apa cita-cita mereka, atau apa sebenarnya visi mereka…
Saat anda memasuki dunia profesional, entah sebagai psikolog, wirausahawan, atau pegawai perusahaan dimana anda menjadi pimpinan atau sebagai pejabat pegawai negeri, Istilah integritas akan sangat jelas makna, arti dan perbedaannya. Untuk mencapai tujuan suatu organisasi diperlukan sumber daya manusia yang handal agar dapat mengelola komponen, manusia dan organisasi menjadi proses yang efektif. Visi dan tujuan organisasi telah jelas, diperlukan sumber daya yang ber-integritas tinggi untuk mengelolanya. Organisasi adalah kendaraan, SDM adalah supirnya. Membangun SDM yang handal diperlukan Integritas para pimpinan kerjanya. Tentu integritas adalah suatu prilaku, suatu habits yang dibentuk dan dilatih. Pertama akan terasa seperti pengorbanan, selanjutnya akan terasa sebagai jalan hidup dan kehormatan anda. Integritas adalah apa yang anda lakukan dan anda berikan. Orang tidak akan bisa mengukur integritas anda, tetapi mereka akan dapat memberikan penilaian yang berakibat pada “reputasi” anda. Jika anda mempunyai komitmen terhadap waktu kerja, dan hal ini ditekankan pada seluruh jajaran dan bawahan anda, tentu anda tidak akan mencoba untuk terlambat bukan? Kalau ya, anda tidak mempunyai sikap keteladanan, atau anda tidak berintegritas, atau reputasi anda akan jelek dimata anak buah anda. Sebagai pemimpin, sikap ini harus senantiasa dijaga. Kepemimpinan anda dipertaruhkan dengan sebuah integritas…
Aku adalah satu
Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu kamu pikirkan
Tak bisa lepas oleh waktu dan kenangan yang lalu
Aku adalah bayang-bayang keagungan dan keindahan
Yang kamu pikirkan dan tak bisa disentuh
Aku adalah Satu dari sekian banyak yang tak berarti
Yang tak akan pernah ada tapi selalu terpikirkan
Aku ada karena peradaban
Aku ada karena pikiran yang terbelenggu dan terjerat
Aku adalah kelembaman sejati yang tak tergantikan…
Aku adalah Tuhan-mu yang tak pernah ada
Aku ingin mengenalmu
Anak kecil di pinggir kali
Di bawah pohon bambu yang bimbang melambai-lambai kesana kemari
Di atas batu hitam yang tak pernah berubah atau bergerak
Anak itu terdiam membisu, badannya hampir tak bergerak
Pikirannya terbang jauh melayang-layang
Memikirkan hal yang tak pernah dibayangkannya
Mempertanyakan hal yang tak boleh diperbincangkan
Tentang… siapa Tuhan itu sebenarnya
Apakah Dia yang ada di balik langit itu? Sedang mengawasi kita
Apakah Dia bisa membaca pikiran kita ?
Sesekali anak itu berhenti berpikir, hanya takut kalau Tuhan marah
Tetapi perbincangan pikirannya pun terus berlanjut
Tuhan… maafkan aku tidak mengenalmu
Bukannya aku tidak mau
Tetapi kita tidak pernah bertemu, aku mahluk yang lemah tidak mungkin membuat Engkau tampak
Engkau adalah segala dari segala pencipta, datanglah dan tampakanlah Dirimu
Aku ingin mengenalmu…
Dia yang tak tersentuh
Dia yang tak tersentuh
Yang menciptakan Keyakinan dan Harapan
Yang menjaga Surga dan Neraka
Yang mengatur Perang, Kemenangan dan Kehancuran
Yang menghembuskan Cinta, Damai dan Kasih
Dia yang begitu berkuasa
Menciptakan dendam dan hasrat,
Memburu dan meniadakan Dia yang lain…
Hingga akhirnya sebutir peluru mampu menembus dan mematikanNya
Menghentikan semua perasaan dan hidupNya
Otak itu diam membisu
Ide dan pikiran terkubur…
Dia telah mati…
Kemungkinan
Pernah berpikir tentang kemungkinan dan seandainya ?
Seandainya Aku tidak dilahirkan, sedih tidak senangpun tidak
Seandainya Aku dilahirkan sebagai Perempuan, protes pengin jadi laki-laki…
Seandainya Aku dilahirkan dari keluarga Hindu Bali, hindu juga
Seandainya Aku dilahirkan dari keluarga muslim Palestina, benci Israel
Seandainya Aku dilahirkan dari anak Raja, jadi Raja
Seandainya Aku dilahirkan dari Budak negro, jadi budak juga
Islam, Kristen, Hindu, Buda, Jawa, Sunda, batak, Cina, Negro semua gak penting…
Tubuh normal, mata buta, telinga tuli, CACAT mental, jadi banci juga gak penting…
Tuhan sedang melemparkan Dadu sebelum menciptakan
Hidup adalah hasil sebuah kemungkinan…
Seandainya aku menjadi Tuhan, aku tidak akan berjudi…
Belenggu
Dia terbelenggu oleh cinta seorang Perempuan dan akhirnya kecewa
Perasaan cinta yang hanya sebuah perasaan tanpa makna
Bebaskan belenggu dengan membuang perasaan menjadi pikiran untuk sebuah komitmen
Dia terbelenggu oleh rasa benci permusuhan tiada akhir
Permusuhan yang tak pernah kita mulai, dan berakhir dengan mati sia-sia
Permusuhan keluarga, suku, agama, bangsa dan sosial yang lain
Dia terbelenggu oleh dogma yang dibuat nenek moyang
Dogma yang tidak selaras dengan nilai-nilai universal
Dogma yang membuat pikiran kita mengeras menjadi batu, sulit diubah atau dicairkan
Batu yang semakin keras, semakin kecil, yang akhirnya pecah menjadi debu
Hilang ditiup angin tidak berbekas…Cepat bebaskan pikiranmu dari Belenggu
Lelaki
Akulah lelaki berpikir tanpa batas
Tak kenal Tuhan tak kenal Setan
Berpegang prinsip teguh nilai universal
Nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kebenaran
Bukan pencipta khayalan, pencipta realitas
Mati hanya kembali
Tak akan pernah menuju Surga, akan diam seperti sebelum dilahirkan…
Agama saya cinta… (Gde Prama)
Paradoks, itulah judul yang diberikan terhadap kecenderungan kekinian dalam kehidupan. John Naisbitt adalah salah satu tokoh yang berkontribusi besar terhadap populernya terminologi paradoks.
Fundamental dalam pikiran orang- orang seperti Naisbitt, bila ada kecenderungan yang keluar dari rel akal sehat, dengan mudah masuk ke kotak paradoks. Sebagian dari manusia yang memberi judul paradoks kemudian kecewa, sebagian lagi malah bertumbuh justru karena paradoks. Tulisan ini berharap, mudah-mudahan lebih banyak sahabat yang dibuat bertumbuh oleh paradoks-paradoks berikut. Tidak menjadi niat tulisan ini agar paradoks-paradoks berikut menjadi awal permusuhan dan kecurigaan baru.
Sebagian paradoks yang layak dicermati adalah apa yang terjadi di Bali, India, Tibet, sampai Timur Tengah. Bali, sebagaimana dikomunikasikan dalam waktu lama oleh industri pariwisata, adalah pulau kedamaian. Namun, di sini juga ribuan manusia dibantai karena judul komunis di tahun 1965. Di sini juga dua bom teroris meraung-raung memakan banyak jiwa manusia. Di sini juga sebuah kota terbakar karena calon presiden yang didukung tidak terpilih di tahun 1999. Di Bali juga terjadi orang yang sudah meninggal pun masih dihalangi agar pulang secara damai.
India juga serupa. Di sini lahir dua agama dunia (Hindu dan Buddha), di sini juga terlahir tokoh-tokoh spiritual yang besar dan mengagumkan, dari Mahatma Gandhi, Ramakrishna, Svami Vivekananda, 0sho, Ramana Maharsi, sampai Buddha Gautama, Atisha, dan Acharya Shantidewa. Namun, di sini juga kebencian memacu permusuhan terus-menerus sehingga sahabat Hindu dengan sahabat Islam belum mengakhiri secara tuntas permusuhannya. Persoalan perbatasan masih memanas. Sejumlah tempat ibadah masih dijaga aparat.
Tibet adalah atap dunia. Seperti kepalanya Bumi. Dengan demikian, mudah dimengerti di sini lahir banyak sastra kehidupan yang mengagumkan (salah satu contohnya The Tibetian Book of the Dead). Namun, di sini juga kesedihan berumur teramat panjang. Dari pemimpinnya Dalai Lama sudah di pengasingan selama puluhan tahun, nasib rakyat Tibet yang penuh dengan tangisan. Dan belum ada tanda-tanda kuat kalau negeri suci ini akan mengalami perubahan.
Timur Tengah juga serupa. Di sini dua agama dunia (Islam dan Nasrani) pernah lahir. Namun, di sini juga mesin-mesin senjata meraung-raung terus memakan korban-korban manusia tidak berdaya. Israel dan Palestina belum menunjukkan tanda-tanda berdamai dalam jangka panjang. Belakangan malah semakin menyedihkan.
Dengan demikian, dalam totalitas, mudah dimengerti kalau Naisbitt pernah membaca sebuah kecenderungan mendunia: ’religion no, spirituality yes’. Agama tidak, spiritualitas ya. Ini mirip dengan pengalaman seorang remaja Indonesia yang pernah kuliah di Melbourne, Australia. Suatu kali dalam kelas yang besar jumlah mahasiswanya, dosennya bertanya: any one of you who have religion? Siapakah yang memiliki agama di kelas ini? Dan yang menaikkan tangan hanya segelintir orang. Namun, mahasiswa yang tidak menaikkan tangannya kalau meminjam pensil tidak lupa mengembalikan. Bila bertemu ibu-ibu dosen membawa beban buku agak berat, mereka cepat memberikan pertolongan. Bila antre di mana pun sangat disiplin. Tatkala bertemu sahabat lain tersenyum sambil mengucapkan selamat pagi. Bila ada teman dalam kesulitan, refleknya bekerja amat cepat untuk membantu. Bila masuk pintu lift atau pintu kereta api mendahulukan orang tua.
Karena itu, menimbulkan pertanyaan, apa agama orang-orang ini? Mirip dengan sejumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. Ketika ditanya apakah Anda Nasrani, ia hanya menjawab dengan senyuman tidak bersuara. Namun, sopannya, ya ampun. Masuk rumah mengetuk pintu, lupa dipersilakan duduk, kemudian bertanya: boleh saya duduk? Bila tidak sependapat, memulai dengan kata ’maafkan kalau saya tidak sependapat’. Dan sejumlah sopan santun yang menyentuh hati.
Ini juga yang membuat sejumlah sahabat di dunia spiritual mulai bergeser: dari pengetahuan spiritual menuju pencapaian spiritual. Belajar dari Buddha lengkap dengan welas asihnya tentu baik. Membaca puisi-puisi sufi yang bertema cinta dan hanya cinta tentu berguna. Kagum dengan doa Santo Fransiscus dari Asisi tentu bermakna. Jatuh cinta sama Bhagawad Gita tentu sebuah pertumbuhan jiwa. Mendalami kebijaksanaan-kebijaksanaan Confucius tentu saja bermanfaat. Namun, mengaktualisasikannya ke dalam pencapaian spiritual keseharian tentu memerlukan upaya yang jauh lebih keras lagi.
Banyak guru yang sepakat, jembatan terpenting yang menghubungkan antara pengetahuan spiritual dan pencapaian spiritual adalah latihan. Seperti menemukan keseimbangan bersepeda, hanya latihan yang paling banyak membantu. Dan waktu serta tempatnya tersedia di mana-mana secara berlimpah. Di rumah, tempat kerja, sekolah, jalan raya, tempat ibadah, sampai lapangan sepak bola, semuanya bisa menjadi tempat-tempat menemukan pencapaian spiritual. Seperti kalimat indah Kahlil Gibran: ’keseharian kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya’.
Menyayangi istri/suami, mendidik putra/putri, mencintai orangtua, menghormati tetangga, menghargai pendapat atau sikap yang berbeda, menghormati atasan, menghargai jasa pemerintah, berterima kasih kepada tukang sapu atau pembantu, dan bila mampu mencintai musuh ada- lah rangkaian pencapaian spiritual keseharian yang mengagumkan. Pengetahuan spiritual memang kaya kata-kata. Namun, pencapaian spiritual kaya akan pelaksanaan.
Kagum dengan pencapaian spiritual Dalai Lama, Richard Gere pernah bertanya kepada pemimpin spiritual Tibet ini tentang agama yang sebenarnya dianut Dalai Lama dalam keseharian. Dengan senyuman penuh di muka, Dalai Lama menjawab: agama saya yang sebenarnya adalah kebaikan.
Ini mirip dengan cerita tentang mahasiswa Melbourne di depan yang tidak menaikkan tangan ketika ditanya punya agama atau tidak. Namun, dalam kesehariannya mereka rajin membantu, sekaligus jarang menyakiti. Sebagian dari orang-orang ini sambil bergumam mengatakan: ’agama saya Cinta’.
Gede Prama Penulis 22 Buku; Bekerja di Jakarta; Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara
-
Recent
-
Links
-
Archives
- January 2009 (1)
- November 2008 (2)
- July 2008 (3)
- June 2008 (6)
- May 2008 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
