Kemungkinan
Pernah berpikir tentang kemungkinan dan seandainya ?
Seandainya Aku tidak dilahirkan, sedih tidak senangpun tidak
Seandainya Aku dilahirkan sebagai Perempuan, protes pengin jadi laki-laki…
Seandainya Aku dilahirkan dari keluarga Hindu Bali, hindu juga
Seandainya Aku dilahirkan dari keluarga muslim Palestina, benci Israel
Seandainya Aku dilahirkan dari anak Raja, jadi Raja
Seandainya Aku dilahirkan dari Budak negro, jadi budak juga
Islam, Kristen, Hindu, Buda, Jawa, Sunda, batak, Cina, Negro semua gak penting…
Tubuh normal, mata buta, telinga tuli, CACAT mental, jadi banci juga gak penting…
Tuhan sedang melemparkan Dadu sebelum menciptakan
Hidup adalah hasil sebuah kemungkinan…
Seandainya aku menjadi Tuhan, aku tidak akan berjudi…
Belenggu
Dia terbelenggu oleh cinta seorang Perempuan dan akhirnya kecewa
Perasaan cinta yang hanya sebuah perasaan tanpa makna
Bebaskan belenggu dengan membuang perasaan menjadi pikiran untuk sebuah komitmen
Dia terbelenggu oleh rasa benci permusuhan tiada akhir
Permusuhan yang tak pernah kita mulai, dan berakhir dengan mati sia-sia
Permusuhan keluarga, suku, agama, bangsa dan sosial yang lain
Dia terbelenggu oleh dogma yang dibuat nenek moyang
Dogma yang tidak selaras dengan nilai-nilai universal
Dogma yang membuat pikiran kita mengeras menjadi batu, sulit diubah atau dicairkan
Batu yang semakin keras, semakin kecil, yang akhirnya pecah menjadi debu
Hilang ditiup angin tidak berbekas…Cepat bebaskan pikiranmu dari Belenggu
Lelaki
Akulah lelaki berpikir tanpa batas
Tak kenal Tuhan tak kenal Setan
Berpegang prinsip teguh nilai universal
Nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kebenaran
Bukan pencipta khayalan, pencipta realitas
Mati hanya kembali
Tak akan pernah menuju Surga, akan diam seperti sebelum dilahirkan…
Agama saya cinta… (Gde Prama)
Paradoks, itulah judul yang diberikan terhadap kecenderungan kekinian dalam kehidupan. John Naisbitt adalah salah satu tokoh yang berkontribusi besar terhadap populernya terminologi paradoks.
Fundamental dalam pikiran orang- orang seperti Naisbitt, bila ada kecenderungan yang keluar dari rel akal sehat, dengan mudah masuk ke kotak paradoks. Sebagian dari manusia yang memberi judul paradoks kemudian kecewa, sebagian lagi malah bertumbuh justru karena paradoks. Tulisan ini berharap, mudah-mudahan lebih banyak sahabat yang dibuat bertumbuh oleh paradoks-paradoks berikut. Tidak menjadi niat tulisan ini agar paradoks-paradoks berikut menjadi awal permusuhan dan kecurigaan baru.
Sebagian paradoks yang layak dicermati adalah apa yang terjadi di Bali, India, Tibet, sampai Timur Tengah. Bali, sebagaimana dikomunikasikan dalam waktu lama oleh industri pariwisata, adalah pulau kedamaian. Namun, di sini juga ribuan manusia dibantai karena judul komunis di tahun 1965. Di sini juga dua bom teroris meraung-raung memakan banyak jiwa manusia. Di sini juga sebuah kota terbakar karena calon presiden yang didukung tidak terpilih di tahun 1999. Di Bali juga terjadi orang yang sudah meninggal pun masih dihalangi agar pulang secara damai.
India juga serupa. Di sini lahir dua agama dunia (Hindu dan Buddha), di sini juga terlahir tokoh-tokoh spiritual yang besar dan mengagumkan, dari Mahatma Gandhi, Ramakrishna, Svami Vivekananda, 0sho, Ramana Maharsi, sampai Buddha Gautama, Atisha, dan Acharya Shantidewa. Namun, di sini juga kebencian memacu permusuhan terus-menerus sehingga sahabat Hindu dengan sahabat Islam belum mengakhiri secara tuntas permusuhannya. Persoalan perbatasan masih memanas. Sejumlah tempat ibadah masih dijaga aparat.
Tibet adalah atap dunia. Seperti kepalanya Bumi. Dengan demikian, mudah dimengerti di sini lahir banyak sastra kehidupan yang mengagumkan (salah satu contohnya The Tibetian Book of the Dead). Namun, di sini juga kesedihan berumur teramat panjang. Dari pemimpinnya Dalai Lama sudah di pengasingan selama puluhan tahun, nasib rakyat Tibet yang penuh dengan tangisan. Dan belum ada tanda-tanda kuat kalau negeri suci ini akan mengalami perubahan.
Timur Tengah juga serupa. Di sini dua agama dunia (Islam dan Nasrani) pernah lahir. Namun, di sini juga mesin-mesin senjata meraung-raung terus memakan korban-korban manusia tidak berdaya. Israel dan Palestina belum menunjukkan tanda-tanda berdamai dalam jangka panjang. Belakangan malah semakin menyedihkan.
Dengan demikian, dalam totalitas, mudah dimengerti kalau Naisbitt pernah membaca sebuah kecenderungan mendunia: ’religion no, spirituality yes’. Agama tidak, spiritualitas ya. Ini mirip dengan pengalaman seorang remaja Indonesia yang pernah kuliah di Melbourne, Australia. Suatu kali dalam kelas yang besar jumlah mahasiswanya, dosennya bertanya: any one of you who have religion? Siapakah yang memiliki agama di kelas ini? Dan yang menaikkan tangan hanya segelintir orang. Namun, mahasiswa yang tidak menaikkan tangannya kalau meminjam pensil tidak lupa mengembalikan. Bila bertemu ibu-ibu dosen membawa beban buku agak berat, mereka cepat memberikan pertolongan. Bila antre di mana pun sangat disiplin. Tatkala bertemu sahabat lain tersenyum sambil mengucapkan selamat pagi. Bila ada teman dalam kesulitan, refleknya bekerja amat cepat untuk membantu. Bila masuk pintu lift atau pintu kereta api mendahulukan orang tua.
Karena itu, menimbulkan pertanyaan, apa agama orang-orang ini? Mirip dengan sejumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali. Ketika ditanya apakah Anda Nasrani, ia hanya menjawab dengan senyuman tidak bersuara. Namun, sopannya, ya ampun. Masuk rumah mengetuk pintu, lupa dipersilakan duduk, kemudian bertanya: boleh saya duduk? Bila tidak sependapat, memulai dengan kata ’maafkan kalau saya tidak sependapat’. Dan sejumlah sopan santun yang menyentuh hati.
Ini juga yang membuat sejumlah sahabat di dunia spiritual mulai bergeser: dari pengetahuan spiritual menuju pencapaian spiritual. Belajar dari Buddha lengkap dengan welas asihnya tentu baik. Membaca puisi-puisi sufi yang bertema cinta dan hanya cinta tentu berguna. Kagum dengan doa Santo Fransiscus dari Asisi tentu bermakna. Jatuh cinta sama Bhagawad Gita tentu sebuah pertumbuhan jiwa. Mendalami kebijaksanaan-kebijaksanaan Confucius tentu saja bermanfaat. Namun, mengaktualisasikannya ke dalam pencapaian spiritual keseharian tentu memerlukan upaya yang jauh lebih keras lagi.
Banyak guru yang sepakat, jembatan terpenting yang menghubungkan antara pengetahuan spiritual dan pencapaian spiritual adalah latihan. Seperti menemukan keseimbangan bersepeda, hanya latihan yang paling banyak membantu. Dan waktu serta tempatnya tersedia di mana-mana secara berlimpah. Di rumah, tempat kerja, sekolah, jalan raya, tempat ibadah, sampai lapangan sepak bola, semuanya bisa menjadi tempat-tempat menemukan pencapaian spiritual. Seperti kalimat indah Kahlil Gibran: ’keseharian kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya’.
Menyayangi istri/suami, mendidik putra/putri, mencintai orangtua, menghormati tetangga, menghargai pendapat atau sikap yang berbeda, menghormati atasan, menghargai jasa pemerintah, berterima kasih kepada tukang sapu atau pembantu, dan bila mampu mencintai musuh ada- lah rangkaian pencapaian spiritual keseharian yang mengagumkan. Pengetahuan spiritual memang kaya kata-kata. Namun, pencapaian spiritual kaya akan pelaksanaan.
Kagum dengan pencapaian spiritual Dalai Lama, Richard Gere pernah bertanya kepada pemimpin spiritual Tibet ini tentang agama yang sebenarnya dianut Dalai Lama dalam keseharian. Dengan senyuman penuh di muka, Dalai Lama menjawab: agama saya yang sebenarnya adalah kebaikan.
Ini mirip dengan cerita tentang mahasiswa Melbourne di depan yang tidak menaikkan tangan ketika ditanya punya agama atau tidak. Namun, dalam kesehariannya mereka rajin membantu, sekaligus jarang menyakiti. Sebagian dari orang-orang ini sambil bergumam mengatakan: ’agama saya Cinta’.
Gede Prama Penulis 22 Buku; Bekerja di Jakarta; Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara
Belajar Filsafat…
Belajar filsafat menjadikan kita sebagai manusia seutuhnya
Menjadikan rasio sebagai dasar membuat suatu keputusan atau pilihan
Filsafat membebaskan kita dari pengaruh atau tekanan orang
Berpikir bebas sebebas-bebasnya, tanpa batas
Ber-filsafat harus terlepas dari dogma atau aturan yang pernah ada yang diciptakan manusia
Harus ber-paradigma luas, besar dan jauh meninggalkan bola bumi
Sehingga dunia yang kita lihat adalah sebuah titik kecil dari ruang tak berbatas
Benar salah adalah hak semua manusia di seluruh muka bumi, dan itu benar sebenar-benarnya…
Jika surga neraka dan kepercayaan menjadi benar dan salah bagi hanya yang meyakininya, itu pantas diperdebatkan…
Jika kita berhasil berpikir jauh meninggalkan daerah kita, agama kita, pulau kita, negara kita
Sehingga kita dapat melihat agama yang lain, pulau yang lain, bangsa yang lain
Dan berpikirlah seandainya kita dilahirkan disetiap daerah diseluruh dunia, dilahirkan dalam setiap kepercayaan yang berbeda…
Jika kita sudah memikirkannya, merasakannya, sekarang kita sedang tertawa kecut, sedih, melihat semua pertikaian dan peperangan yang ada…
Sadarkah anda bahwa manusia yang menciptakan agama sebagai suatu perbedaan untuk perpecahan ?
Jika belum sadar, selamat berperang…
Kalau mau damai, jadi orang dewasa lah…
Orang dewasa akan berpikir bijak, makannya ber-filsafat…
Manusia Sempurna
Manusia memang sempurna…
Pertama dia menciptakan dewa-dewa
Kemudian menciptakan Tuhan
Dan Malaikat beserta Iblis..
Manusia dielukan menjadi Tuhan
Atau menjadi Nabi yang pernah bertemu Tuhan
Paling tidak sebagai anak-nya Tuhan juga gak apa-apa…
Manusia mengarang cerita dewa dewi dan pewayangan lainnya
Dan menulis sastra indah sebagai sentuhan tangan Tuhan
Apa yang sedang terjadi?
Tentang semua agama, kepercayaan dan paham
Tentang dogma-dogma, tentang buku-buku dan kitab suci
Adalah karya manusia sebagai mahluk yang sempurna
Yang mempunyai hayalan yang tidak akan pernah jadi kenyataan
Khayalan tentang konsep KeTuhanan
Dan ketakutan akan kehidupan yang singkat
Dan harapan untuk kehidupan yang lain, tak rela mati begitu saja…
Agama adalah pakaian yang diberikan orang sebelum kita
Diberikan oleh orang tua kita
Apakah kita harus memakai-nya ?
Atau boleh memakai pakaian yang diberikan orang lain ?
Atau kita tidak perlu berpakaian sama sekali..
Seperti Kahlil Gibran yang mensyaratkan orang harus menanggalkan pakaiannya
sebelum memasuki pintu rumahnya
Jika kita telah fitrah, kita akan melihat dunia dengan kaca yang sangat bening…
-
Recent
-
Links
-
Archives
- January 2009 (1)
- November 2008 (2)
- July 2008 (3)
- June 2008 (6)
- May 2008 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
