Dunia itu seperti demikian apa adanya…
Kata-kata di atas menjelaskan arti sebuah paradigma kebenaran yang terkadang masih dapat kita jangkau, sebagian atau di luar jangkauan pemahaman kita. Mengerti sebuah paradigma adalah hasil dari sebuah perjalanan panjang menjangkau dunia, bahkan di luar dunia. Jika kita berkesempatan hidup di setiap bangsa, bahkan bagian atau suku-suku terkecil yang pernah ada, kita akan bisa memahami sebuah paradigma kebenaran.
Seorang manusia yang terlahir di Vatican dan meninggal di Vatican, dia akan berparadigma sebagai seorang Vatican yang taat akan katholik dan doktrin gereja-nya. Demikian pula orang yang terlahir di India, atau di Saudi Arabia, tentu akan memiliki paradigma sesuai daerahnya. Paradigma yang salah akan menyebabkan sengketa, perselisihan, permusuhan bahkan peperangan tiada henti.
Dilahirkan di manakah anda ? dilahirkan sebagai agama apakah anda ? dilahirkan dalam kebudayaan apakah anda ?
Pikiran dan pandangan-pandangan kita akan terikat oleh pandangan orang tua, terikat oleh agama oreng tua, oleh kebudayaan yang dijalani orang tua dan sebagainya. Sehingga kita adalah ciptaan orang tua kita termasuk paradigma yang terbentuk, yang seharusnya adalah hak independent kita untuk berpikir dan memutuskan apa yang harus kita percaya. Hidup adalah melanjutkan hidup kebudayaan sebelumnya, melanjutkan dan menjaga kepercayaan generasi sebelumnya, bahkan sebelum kita dapat membentuk paradigma orisinil yang kita punya.
Bagaimana cara mendapatkan Paradigma yang benar ?
Anda harus memandang dunia apa adanya. Anda harus tahu sejarah yang membentuk peradaban manusia. Peradaban yunani, romawi, cina, atau peradaban di daerah anda sekarang. Sejarah bisa diltus manusia, ada banyak distorsi dan kita harus mampu mendapat jawaban dari distorsi itu. Kita adalah produk, atau bukan produk jika kita mampu melepas dari keterkungkungan paradigma nenek moyang. Jangan pernah berperang karena agama karena itu bodoh, jangan membenci karena beda warna kulit karena itu picik. Kita adalah produk system acak yang bisa saja menjadi anak raja atau anak miskin, menjadi negro atau bule, menjadi islam atau kristen. Paradigma berarti percaya atau tidak.
Saya percaya pada system tata surya walaupun belum bisa membuktikan, dan saya tidak percaya pada surga walaupun belum bisa membuktikan. Hari ini orang yang percaya bahwa dunia itu datar akan disebut bodoh, dahulu orang yang mengingkari itu akan digantung. Paradigma adalah cara kita memandang segala sesuatu dengan segala pengetahuan yang kita terima. Terbanglah jauh pikiran anda, menembus apa yang ada di dunia, terbang tinggi sampai ke bulan maka anda akan mendapatkan paradigma dunia apa adanya.
Sehingga tidaklah penting agama apa yang dianut orang tua kita, atau dari mana asal suku kita, sangatlah penting apa yang diajarkan orang tua kita tentang nilai-nilai kebaikan dan kebenaran sejati
Integritas Pemimpin
Pernahkah terfikir oleh anda bahwa anda telah memiliki integritas yang tinggi? Atau setidaknya seberapakah ukuran integritas anda? Hal ini terasa sangat umum sekali, sering terdengar kata “integritas”, bahkan mungkin kita merasa memiliki kata itu. Intergritas tak lebih dari pembuktian diri, secara umum menjelaskan bahwa apa yang saya katakan sama dengan yang saya kerjakan. Tapi berkembang lebih dari itu, integritas merupakan komitmen diri yang datang dari pikiran, dipadu dengan hati dan dilakukan dengan perbuatan. Terdapat sinkronisasi antara ketiga komponen tersebut, sehingga saling terhubung dan memberikan makna yang jelas.
Dari kecil tentu saja kita belum mengenal dan mengerti mengenai integritas, tapi tanpa sadar kita banyak melakukan sepanjang mengacu pada kebenaran dan kejujuran. Kebenaran akan bersifat langgeng, kejujuran tidak dapat diputar-balikkan. Saat anak kecil berkata bahwa Dia akan tidak nakal, Dia akan berusaha menjadi anak manis yang menurut. Dia ingin konsisten dengan apa yang diucapkan pada Ibunya sampai akhirnya dia menangis karena minta dibelikan permen yang menggoda pandangan matanya di etalase. Tentu kita tidak bisa menyebutkan bahwa anak ini tidak memiliki integritas, hal ini bisa dijelaskan dengan satu alasan : Integritas bisa dimiliki oleh siapa saja yang mampu berpikir, beranalisa, berkesadaran penuh dan memiliki kejujuran.
Saat kita menjadi mahasiswa, apakah benar-benar merasa sebagai orang dewasa? Tentu saja anda merasa demikian. Tingkat kedewasaan bisa terukur dari bagaimana dapat menjaga komitmen, bagaimana dapat berprilaku santun, bagaimana dapat mengatur waktu pribadinya, bagaimana dapat mempertanggungjawabkan studinya pada orang yang membiayai dan seterusnya. Bagaimana Dia mempunyai integritas? Sedikit mencontek, sedikit bermain, sedikit membolos, terasa seperti menjadi hak kita sebagai orang dewasa yang mampu berpikir lebih.Tapi tanpa kita sadari, itu merupakan penurunan integritas anda. Hanya beberapa orang yang menjadi pimpinan puncak organisasi kampus berusaha menjadi orang yang berintegritas. Integritas akan terasa untuk hal-hal yang berhubungan dengan organisasi karena adanya inter personal relation yang harus dijaga. Belum tentu apa yang dilakukan mahasiswa dalam berdemonstrasi merupakan perwujudan dari integritas terhadap bangsa ini, bisa terbukti jika kita mengetahui apa yang ada di pikiran dan hati mereka. Apa yang akan mereka kerjakan setelah lulus, apa cita-cita mereka, atau apa sebenarnya visi mereka…
Saat anda memasuki dunia profesional, entah sebagai psikolog, wirausahawan, atau pegawai perusahaan dimana anda menjadi pimpinan atau sebagai pejabat pegawai negeri, Istilah integritas akan sangat jelas makna, arti dan perbedaannya. Untuk mencapai tujuan suatu organisasi diperlukan sumber daya manusia yang handal agar dapat mengelola komponen, manusia dan organisasi menjadi proses yang efektif. Visi dan tujuan organisasi telah jelas, diperlukan sumber daya yang ber-integritas tinggi untuk mengelolanya. Organisasi adalah kendaraan, SDM adalah supirnya. Membangun SDM yang handal diperlukan Integritas para pimpinan kerjanya. Tentu integritas adalah suatu prilaku, suatu habits yang dibentuk dan dilatih. Pertama akan terasa seperti pengorbanan, selanjutnya akan terasa sebagai jalan hidup dan kehormatan anda. Integritas adalah apa yang anda lakukan dan anda berikan. Orang tidak akan bisa mengukur integritas anda, tetapi mereka akan dapat memberikan penilaian yang berakibat pada “reputasi” anda. Jika anda mempunyai komitmen terhadap waktu kerja, dan hal ini ditekankan pada seluruh jajaran dan bawahan anda, tentu anda tidak akan mencoba untuk terlambat bukan? Kalau ya, anda tidak mempunyai sikap keteladanan, atau anda tidak berintegritas, atau reputasi anda akan jelek dimata anak buah anda. Sebagai pemimpin, sikap ini harus senantiasa dijaga. Kepemimpinan anda dipertaruhkan dengan sebuah integritas…
-
Recent
-
Links
-
Archives
- January 2009 (1)
- November 2008 (2)
- July 2008 (3)
- June 2008 (6)
- May 2008 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
